Aras Atas
Fakta dan Data Minat Baca Orang Indonesia
Fakta dan Data Minat Baca Orang Indonesia
Dari seribu orang di Indonesia hanya satu yang membaca buku.

Fakta dan Data Minat Baca Orang Indonesia

Kurator Penulisan: SIW

Arast Atas - Ilmiah | Dari seribu orang di Indonesia hanya satu yang membaca buku. Jika jumlah penduduk Indonesia 282 juta jiwa lebih, artinya hanya 282 ribu jiwa lebih (sedikit) yang membaca buku. 

Jika kita membuat presentase dari jumlah penduduk 282 juga jiwa (lebih), ditemukan hanya 0,01 % yang membaca buku. Ini adalah jumlah yang miris. 

Mari kita lihat apa saja alasan, bagaimana dan kenapa orang Indonesia tidak suka baca buku? Berikut ulasannya.

Perspektif Historis: Warisan Kolonial dan Akses Pendidikan

Pada masa kolonialisme Belanda, pendidikan hanya diperuntukkan bagi kalangan elit dan pribumi tertentu. Sekolah-sekolah seperti Hollandsch-Inlandsche School (HIS) atau Europeesche Lagere School (ELS) lebih memprioritaskan anak-anak keturunan Eropa dan kaum priyayi. Akibatnya, tingkat literasi masyarakat pribumi tetap rendah hingga awal abad ke-20.

Setelah kemerdekaan, Indonesia mengalami kesulitan membangun infrastruktur pendidikan yang merata. Pada tahun 1950-an hingga 1970-an, akses buku dan sumber bacaan masih terbatas di luar kota-kota besar. 

arasatas.com

Pemerintah memang menerapkan kebijakan wajib belajar, tetapi budaya membaca belum terbentuk kuat seperti di negara-negara dengan sejarah panjang dalam literasi, misalnya Jepang atau Jerman.

Perspektif Sosial dan Ekonomi: Faktor Kesejahteraan

Penelitian dari UNESCO (2019) menunjukkan bahwa tingkat kesejahteraan berhubungan erat dengan minat baca. Di Indonesia, masyarakat dengan penghasilan rendah lebih fokus pada kebutuhan dasar seperti sandang, pangan, dan papan dibandingkan membeli buku. Hasil riset Perpusnas (2021) juga menunjukkan bahwa 61% responden menyatakan keterbatasan ekonomi sebagai alasan utama rendahnya pembelian buku.

Selain itu, budaya lisan lebih dominan di Indonesia. Banyak masyarakat lebih suka mendapatkan informasi secara verbal, baik dari obrolan maupun media audiovisual seperti televisi dan media sosial. Hal ini membuat kebiasaan membaca tidak menjadi prioritas utama dalam kehidupan sehari-hari.Perspektif Pendidikan: Kurikulum yang Kurang Mendorong Literasi

Sistem pendidikan Indonesia lebih menekankan hafalan dibandingkan pemahaman mendalam melalui bacaan. Menurut penelitian dari World Bank (2020), siswa Indonesia memiliki tingkat pemahaman teks yang rendah dibandingkan negara-negara lain dalam tes PISA. Dalam tes literasi PISA 2018, Indonesia berada di peringkat 74 dari 79 negara.

Metode pengajaran yang kurang interaktif serta kurangnya pembiasaan membaca sejak dini di sekolah menjadi penyebab utama. Di beberapa negara dengan budaya literasi tinggi seperti Finlandia, anak-anak diberikan kebebasan memilih bacaan sejak kecil, sementara di Indonesia, aktivitas membaca sering kali dianggap sebagai kewajiban akademik daripada kebutuhan intelektual.

Perspektif Teknologi: Pengaruh Digitalisasi dan Media Sosial

Perkembangan teknologi juga berperan dalam perubahan kebiasaan membaca. Menurut laporan We Are Social (2023), rata-rata waktu yang dihabiskan masyarakat Indonesia untuk mengakses media sosial mencapai 3 jam 18 menit per hari, sedangkan waktu membaca hanya sekitar 6 menit per hari.

Konten digital yang lebih singkat, seperti video pendek dan berita singkat, membuat banyak orang lebih memilih informasi instan daripada membaca buku yang membutuhkan waktu lebih lama. Studi dari Pew Research Center (2022) juga menunjukkan bahwa kebiasaan membaca panjang berkurang seiring dengan meningkatnya konsumsi media berbasis visual.

Perspektif Kebijakan: Kurangnya Perpustakaan dan Distribusi Buku

Ketersediaan buku dan perpustakaan yang terbatas di daerah pedesaan turut memperparah rendahnya minat baca. Data dari Perpustakaan Nasional (2022) menunjukkan bahwa jumlah perpustakaan di Indonesia masih jauh tertinggal dibandingkan negara maju. Banyak perpustakaan daerah yang kurang terawat dan koleksi bukunya tidak diperbarui, sehingga masyarakat kurang tertarik untuk menggunakannya.

Selain itu, harga buku di Indonesia relatif mahal dibandingkan daya beli masyarakat. Menurut riset LIPI (2021), harga buku di Indonesia bisa mencapai 10–15% dari upah minimum, sedangkan di negara maju seperti Jerman atau Jepang, harga buku hanya sekitar 2–5% dari upah minimum.


Rendahnya minat baca masyarakat Indonesia bukan hanya karena faktor individu, tetapi juga akibat warisan sejarah, ekonomi, sistem pendidikan, perubahan teknologi, dan kebijakan yang belum maksimal. 

Solusi yang dapat dilakukan antara lain meningkatkan akses buku murah, mendorong kebiasaan membaca sejak dini, memperbaiki sistem pendidikan agar lebih berbasis literasi, serta mengadaptasi teknologi agar dapat meningkatkan minat baca, bukan justru menguranginya.


Komentar

Join the conversation

Aras Atas