

Negara Indonesia, Negara yang Saya Cintai
Sekitar tahun 2009, saya melanjutkan pendidikan ke sebuah perguruan tinggi. Namanya? Tidak perlu disebut. Yang tahu, biarlah tahu. Yang tidak tahu, tidak perlu tahu. Alasannya? Yang panti Logis!
Setahun berlalu, saya mulai menyadari bahwa cara berpikir saya berubah. Hari ke hari, minggu ke minggu, bulan ke bulan, hingga tahun ke tahun, saya mulai berpikir lebih kritis. Minat baca yang tinggi menjadi faktor utama. (untuk ini saya harus berterima kasih kepada almarhum ayah saya, yang sejak remaja memaksa saya membaca).
Dulu saya marasa dipaksa tanpa mampu memaknainya, tapi kini inilah warisan yang paling berharga dalam hidup saya. Dengan bangga saya wariskan ke anak-anak saya.
Lanjut dari proses di atas. Buku-buku dan artikel yang saya baca memperkenalkan saya pada pemikiran Nurcholish Madjid, Syafi’i Ma’arif, Sukarno, Tan Malaka, Sutan Sjahrir, Mohammad Hatta, Lafran Pane, dan banyak tokoh lain.
Dari mereka, saya memahami bagaimana Keindonesiaan dan Keislaman bukanlah dua kutub yang harus dipertentangkan, melainkan harus saling menguatkan.
Semua pemikiran itu membentuk ideologi dalam diri saya. Saya bisa dengan lantang mengatakan, "Saya cinta Indonesia." Tetapi sekarang, cinta ini mulai menemukan jalannya sendiri.
Saya tidak tahu lagi, bentuk cinta macam apa yang harus saya tuangkan untuk negeri ini. Negeri ini sedang sakit. Rusak, sekarat, hancur tanpa perlu diserang musuh, kalah tanpa bertanding, tersungkur tanpa tersandung.
Saya benci mengatakan bahwa negeri ini akan tutup usia. Tidak! Tidak! Atau sebenarnya, kita memang sedang menuju ke sana?
Penyakit terbesar yang menghancurkan negeri ini adalah korupsi. Dulu saya berpikir, semakin banyak pemimpin yang religius, semakin baik. Ternyata tidak. Korupsi tidak hanya terjadi di ranah politik dan ekonomi, tetapi bahkan telah mencemari dunia keagamaan.
Apa yang salah? Kurang beriman? Tidak mungkin. Mayoritas masyarakat bangsa ini dikenal agamis. Kurang berpendidikan? Juga tidak. Justru para koruptor adalah orang-orang berpendidikan tinggi.
Lalu bagaimana dengan moral dan etika?
Saya ingat diskusi dengan seorang senior di kampus. Katanya, "Moral itu tidak penting, yang penting adalah sistem dan pemimpin yang amanah. Jika sistem baik, keadilan akan terwujud." Saat itu saya percaya. Tapi sekarang saya sadar, pemimpin yang amanah hanya bisa lahir dari individu dengan moral yang matang. Tanpa itu, sistem yang baik pun bisa dimanipulasi.
Etika, Moral, dan Studi Ilmiah tentang Korupsi
Studi Ilmiah: Hubungan Moral dan Korupsi
Studi dari Treisman (2000) dalam The Causes of Corruption menunjukkan bahwa negara dengan tingkat moralitas publik yang tinggi cenderung memiliki tingkat korupsi yang lebih rendah. Studi lain dari Gächter & Schulz (2016) dalam Intrinsic Honesty and the Prevalence of Rule Violations Across Societies menemukan bahwa kejujuran intrinsik lebih kuat di masyarakat dengan norma moral yang lebih mapan.
Dalam penelitian ini, mereka melakukan eksperimen di berbagai negara dan menemukan bahwa negara dengan budaya kejujuran yang kuat memiliki tingkat korupsi yang lebih rendah. Ini membuktikan bahwa moralitas bukan hanya faktor subjektif, tetapi memiliki dampak nyata terhadap tata kelola negara.
Teori Moral dan Pembentukan Etika Keutamaan
Filsafat moral menawarkan banyak perspektif dalam memahami kenapa seseorang bisa korup dan bagaimana mengatasinya. Salah satu pendekatan paling relevan adalah Etika Keutamaan yang dikembangkan oleh Aristoteles dalam Etika Nikomakea.
Aristoteles menekankan bahwa moralitas bukan sekadar mengikuti aturan, tetapi soal kebiasaan yang dibangun sejak dini. Keutamaan moral seperti kejujuran, keadilan, dan keberanian tidak muncul begitu saja, tetapi harus dipraktikkan secara terus-menerus hingga menjadi karakter seseorang.
Aristoteles menyebutkan bahwa moralitas adalah hasil dari kebiasaan (habitus). Jika seseorang terbiasa hidup dalam ketidakjujuran, maka korupsi baginya bukan sesuatu yang salah, tetapi hal yang normal. Dan inilah yang terjadi di negeri ini: korupsi menjadi budaya karena kita terbiasa melihatnya, mendiamkannya, dan akhirnya menganggapnya wajar.
Keutamaan Moral yang Harus Dimiliki Pemimpin
Aristoteles menekankan beberapa keutamaan moral yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin:
- Keadilan (Justice) – Prinsip bahwa setiap orang mendapatkan haknya. Pemimpin yang adil tidak akan mengambil sesuatu yang bukan miliknya.
- Keberanian (Courage) – Keberanian untuk menolak korupsi meskipun semua orang melakukannya.
- Kebijaksanaan (Prudence) – Kemampuan untuk mengambil keputusan berdasarkan moral yang benar, bukan hanya kepentingan pribadi.
- Kesederhanaan (Temperance) – Tidak serakah, tidak haus kekuasaan, dan tidak tergoda oleh kemewahan duniawi.
Jika seorang pemimpin memiliki keutamaan moral ini, dia tidak akan tergoda untuk korupsi, meskipun ada kesempatan besar untuk melakukannya.
Jalan Panjang yang Harus Kita Tempuh
Korupsi di negeri ini bukan sekadar kejahatan ekonomi, tetapi krisis moral. Pendidikan tinggi saja tidak cukup. Iman yang kuat juga belum tentu cukup. Jika seseorang tidak memiliki moralitas dan etika yang tertanam sejak dini, dia tetap bisa menjadi koruptor.
Lalu, bagaimana cara kita mengatasi ini?
Kita tidak bisa hanya berharap pada hukum, karena hukum di negeri ini sering kali tajam ke bawah, tumpul ke atas. Kita juga tidak bisa hanya berharap pada pemimpin, karena mereka datang dan pergi tanpa perubahan yang berarti. Yang bisa kita lakukan adalah membangun budaya moral sejak dini, baik melalui pendidikan, keluarga, maupun lingkungan sosial.
Seperti yang dikatakan Immanuel Kant dalam teori etika deontologinya, tindakan yang benar bukan hanya soal hasilnya, tetapi soal apakah tindakan itu didasarkan pada prinsip moral yang benar. Dalam konteks ini, korupsi tidak bisa dibenarkan dengan alasan apa pun, karena secara moral, itu sudah salah sejak awal.
Tanpa etika yang kuat, hukum hanyalah teks mati, dan sistem hanyalah alat yang bisa dimanipulasi oleh mereka yang berkuasa.
Jadi, pertanyaannya: Apakah kita benar-benar peduli untuk mencegah kehancuran bangsa ini?
Kurator : SIW
Komentar
Join the conversation