

10 Indonesia Mengalami Deflasi Besar-Besaran: Pemerintah Harus Segera Carikan Solusi
Penurunan daya beli masyarakat Indonesia dalam beberapa tahun terakhir telah menjadi perhatian serius bagi pemerintah, ekonom, dan pelaku usaha. Daya beli yang melemah tidak hanya mempengaruhi konsumsi rumah tangga—komponen utama dalam perekonomian—tetapi juga berdampak pada pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan. Beberapa faktor utama yang berkontribusi terhadap penurunan daya beli masyarakat Indonesia antara lain:
1. Inflasi dan Kenaikan Harga Barang
Inflasi yang tinggi menyebabkan harga barang dan jasa meningkat, sehingga nilai riil pendapatan masyarakat menurun. Ketika harga kebutuhan pokok seperti pangan dan energi naik, masyarakat harus mengeluarkan lebih banyak uang untuk memenuhi kebutuhan dasar, mengurangi kemampuan mereka untuk membeli barang dan jasa lainnya.
Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS), inflasi pada tahun 2024 mencapai 5%, sementara pertumbuhan pendapatan rata-rata rumah tangga hanya 3%, menunjukkan ketidakseimbangan yang mengurangi daya beli masyarakat.
2. Kenaikan Pajak dan Kebijakan Fiskal
Peningkatan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) menjadi 12% berpotensi menambah beban bagi konsumen, terutama mereka yang berada di kelas menengah ke bawah. Kenaikan pajak ini dapat meningkatkan harga barang dan jasa, sehingga mengurangi daya beli masyarakat. Laporan dari Center of Economic and Law Studies (Celios) menunjukkan bahwa kenaikan PPN dapat memperberat daya beli masyarakat dan memperlambat pertumbuhan ekonomi.
3. Pengangguran dan Keterbatasan Lapangan Kerja
Tingkat pengangguran yang tinggi atau ketidakstabilan pekerjaan mengurangi pendapatan rumah tangga, sehingga daya beli menurun. Pandemi COVID-19 menyebabkan banyak perusahaan mengurangi tenaga kerja atau bahkan tutup, meningkatkan angka pengangguran. Penurunan lapangan kerja formal juga menyebabkan masyarakat kehilangan sumber pendapatan yang stabil, berdampak negatif pada daya beli mereka.
4. Kenaikan Harga Bahan Bakar Minyak (BBM)
Kenaikan harga BBM memiliki efek domino terhadap biaya transportasi dan produksi, yang pada akhirnya meningkatkan harga barang dan jasa lainnya. Penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan antara kenaikan harga BBM dan penurunan daya beli masyarakat di Indonesia, ditandai dengan penurunan pendapatan per kapita.
5. Pinjaman Online (Pinjol) dan Judi Online (Judol)
Maraknya pinjaman online dengan bunga tinggi dan judi online telah menggerogoti pendapatan masyarakat. Banyak individu terjebak dalam lingkaran utang, yang mengurangi kemampuan mereka untuk membelanjakan uang untuk kebutuhan lain, sehingga menurunkan daya beli secara keseluruhan.
6. Ketidakpastian Ekonomi dan Kebijakan Pemerintah
Ketidakpastian ekonomi global dan domestik, termasuk perubahan kebijakan pemerintah yang tiba-tiba, dapat menurunkan kepercayaan konsumen. Ketika masyarakat merasa tidak yakin tentang masa depan ekonomi, mereka cenderung menahan pengeluaran dan meningkatkan tabungan, yang pada gilirannya menurunkan daya beli.
7. Penurunan Kelas Menengah
Kelas menengah merupakan pendorong utama konsumsi. Namun, sejak pandemi, terjadi penurunan signifikan dalam jumlah kelas menengah di Indonesia, dari 21,5% populasi pada 2019 menjadi 17,1% pada 2024. Penurunan ini mengancam prospek ekonomi Indonesia, karena konsumsi rumah tangga yang menyumbang lebih dari setengah PDB mungkin melemah.
8. Ketergantungan pada Sektor Komoditas
Ketergantungan pada sektor komoditas dan kurangnya investasi di industri berpenghasilan tinggi menyebabkan banyak pekerjaan yang tersedia berada di sektor dengan upah rendah. Hal ini membatasi pertumbuhan pendapatan dan daya beli masyarakat.
9. Fluktuasi Nilai Tukar Rupiah
Depresiasi nilai tukar rupiah terhadap dolar AS dapat meningkatkan harga barang impor, yang pada gilirannya meningkatkan biaya hidup dan menekan daya beli masyarakat. Pada tahun 2024, rupiah terdepresiasi sekitar 2% terhadap dolar AS, menambah tekanan pada ekonomi domestik.
10. Penurunan Investasi di Sektor Formal
Kurangnya investasi di sektor formal mengurangi ketersediaan pekerjaan yang layak dan berpenghasilan baik. Hal ini menyebabkan banyak pekerja terjebak dalam pekerjaan informal dengan pendapatan yang tidak stabil, yang berdampak negatif pada daya beli mereka.
Secara keseluruhan, penurunan daya beli masyarakat Indonesia disebabkan oleh kombinasi faktor internal dan eksternal. Untuk mengatasi tantangan ini, diperlukan kebijakan yang komprehensif, termasuk pengendalian inflasi, penciptaan lapangan kerja berkualitas, pengaturan pinjaman online, dan kebijakan fiskal yang pro-rakyat. Hanya dengan pendekatan holistik, daya beli masyarakat dapat ditingkatkan kembali, mendorong pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.
Komentar
Join the conversation